Ibu kita Kartini,

Putri sejati,

Putri Indonesia,

Harum namanya

Ibu kita Kartini,

Pendekar bangsa,

Pendekar kaumnya,

Untuk merdeka.

Wahai Ibu Kita Kartini

Putri Yang Mulia

Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia.


Hari ini 21 April 2011, tepatnya 132 tahun yang lalu ,… di Jepara terlahir seorang perempuan dengan Nama Raden Ayu Kartini yang kelak akan menjadi seorang pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Apa yang masih melekat di ingatan kita setiap Hari Kartini diperingati? Berbagai lomba kebaya mungkin, atau lomba masak di tingkat kelurahan. Bisa jadi terbayang lomba kebaya cilik atau pagelaran adat daerah.

Seperti itu barangkali yang lebih mendominasi alam pikiran kita. Barangkali segelintir dari kita langsung tertuju pada sebuah judul buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang kumpulan naskah korespondensi Raden Ayu Kartini dengan sahabatnya di Belanda.

Anak-anak kita sangat mungkin tidak pernah lagi melantunkan lagu Ibu Kita Kartini karya WR Supratman itu. Bahkan bila boleh jujur nyaris tak pernah mendengarnya lagi. Menyedihkan! Sosok Kartini sang pembawa titik terang kaum perempuan Indonesia itu menjelma bagai mitos, sesuatu yang kita percayai dan telah diangap sebagai sebuah kebenaran sejak dulu tapi sebenarnya tidak benar.

Tegakah kita membiarkan zaman menyulap gagasan dan sosok Kartini sebagai pejuang kemanusiaan menjadi pada akhirnya mitos saja?

Kartini adalah seorang kutu buku, penulis, istri yang setia, pejuang dan peduli nasib miris kaumnya. Inilah potret zamannya, buta huruf, terbelakang, terhimpit, dan terpenjara oleh oleh feodalisme, oleh sebuah kultur yang tidak berpihak kepada perempuan.

Tapi seorang Kartini mampu menembus penjaranya dengan caranya sendiri, berjuang untuk seluruh kaumnya. Semangat inilah yang seharusnya disemai agar produktif, tidak hanya menjadi cermin bagi kaum perempuan tapi juga laki-laki dalam perspektif setara.

Dengan demikian, apa yang sesungguhnya penting diperjuangkan oleh kaum perempuan saat ini. Dalam berbagai acara peringatan Hari Kartini, adakah perenungan yang berhasil menembus wujud kebaya, masak-memasak atau lewat untaian kata-kata emansipasi sebagai upaya mengeksplorasi kembali semangat juang Kartini yang mati muda itu.

Apakah gagasannya itu hanya dapat dibaca dibajunya, kebayanya, masakannya, atau formalitas mengenang nama besarnya. Jangan sampai kita terjebak pada ritualnya tapi alpa menyimpan makna dan menghidupkannya terus-menerus sepanjang hari tanpa menunggu 21 April saja. Biarkan semangat dan jiwa juang perempuan senantiasa terpompa untuk keluar dari rasa ketidakmampuan.

Kita seyogianya mengenang Kartini pada gagasan, ide, perjuangan, dan pandangan-pandangannya tentang ketuhanan, kebijaksanaan, keindahan, humanisme, dan nasionalisme. Bukan pada apa yang telah diapresiasi oleh orang lain.

Sebab, boleh jadi kita akan terjebak pada sosok Kartini sebagai sebuah nama besar dan menafikan gagasan besarnya, karena hanya akan menjadikan Kartini sebagai mitos yang melengkapi cerita-cerita mitos di negeri kita ini. Kartini adalah putri sejati yang peduli kaumnya, dimana pada masanya hampir tidak ada orang yang peduli nasib perempuan, bahkan oleh dan dari kalangan perempuan sekalipun.

Hari ini, biarkanlah semangat tumbuh dan berkembang menyemangati setiap jiwa perempuan Indonesia. Pun, seluruh jiwa anak bangsa ini, karena ide, gagasan, dan spirit untuk maju tidak hanya boleh diklaim oleh segolongan kaum, apalagi oleh hanya karena jenis kelamin.